Sub-Menu

Online

My Time

22 Februari, 2011

Mujair penemu ikan air tawar Mujair.


Ditulis dalam Penemu dan Temuannya tagged , pada 06:18 oleh Didik Suwitohadi
Ikan air tawar mujair ditemukan pertama kali oleh Pak Mujair di muara sungai serang, pantai selatan, Blitar Jawa timur, pada tahun 1939.

Jenis ikan ini berasal dari perairan Afrika. Sampai saat ini masih menjadi misteri, bagaimana jenis ikan ini bisa sampai menyebar di Indonesia, dimuara terpencil, selatan Blitar. Nama ikan ini dinamai sesuai degan nama penemunya, Mujair. Nama ilimiah ikan ini adalah Oreochromis mossambicus. Dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Mozambique Tilapea.ATau kadang secara tidk tepat disebut Java Tilapia.
Panjang ikan mujair dapat mencapai 40 cm. Bentuk badan pipih cenderung berwarna hitam, kecoklatan, ke-abua-abu-an atau kuning. Sirip punggung (dorsal) memiliki 15-17 duri tajam dan 10-13 duri lunak. Serta sirip dubur (anal) dengan 3 tajam , 9 – 12 duri lunak.
Ikan mujair mampu hidup diair payau, karena dia mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam dalam air. Mempunyai kecepatan pertembunhan yang relatip cepat, dan akan menurun kecepatan pertumbuhannnya saat dia beranjak dewasa.
Ikan mujair mulai bisa berbiak pada umur 3 bulan, setelah itu akan bisa berbiak lagi 1,5 bulan sekali. Telur yang telah dibuahi akan dierami dalam mulut induk betina. Memerlukan waktu sekitar seminggu hingga menetas.. Hingga beberapa hari mulut induknya menjadi tempat perlindungan anak-anaknya. Sampai tiba saatnya anak-anak ikan itu disapih induknya.
Dalam beberapa bulan populasi mujair dapat meningkat sangat pesat. Ikan mujair mampu beradaptasi dengan aneka lingkungan dan kondisi ketersediaan pangan. Ikan yang amat survive.
Ikan ini dianggap sangat invasif dan bisa menimbulkan berbagai masalah baru dilingkungan dia berada.Seperti di Singapura, California selatan. Tak luput di beberapa waduk di Indonesia.

Klasifikasi ikan mujair.

Kelas: Pisces. Sub kelas : Teleostei. Ordo : Percomorphi. Sub Ordo : Percoidea. Famili : Cichlidae. Genus : Oreochromis. Species : Oreochromis Mossambicus.

Siapa Mujair ( Moedjair ).

Iwan Dalauk yang yang lebih dikenal dengan nama Mbah Moedjair, lahir tahun 1890 di desa Kuninngan 3 km arah timur pusat kota Blitar. Anak ke 4 dari 9 bersaudara, dari pasangan Bapak Bayan Isman dan Ibu Rubiyah.
Menikah dengan anak modin desa kuningan bernama Partimah. Dari pernikhan itu beliau dikaruniai 7 anak, yaitu ; WahananNapiyahThoyibahImam SoepardiIsmoenirDjaenuri dan Daud. Hampir semua anak beliau saat ini sudah meninggal., kecuali Ismoenir yang bertempat tinggal di Kanigoro Blitar dan Djaenuri yang tinggal di Kencong Jember
Semasa hidup Pak Moedjair berjualan sate kambing. Warung sate kambingnya cukup terkenal di jaman itu, di daerah Kuningan Kanigoro. Pelanggannya dari berbagai ras. Akibat dari warungnya yang terkenal tentu saja pemasukan keuangan Pak Moedjair semakin bertumpuk. Hal tersebut memunculkan sifat negatip dari Moedjair muda saat itu, yaitu mulai gemar berjudi. Hebatnya dia tidak mau berjudi dengan bangsanya, tapi hanya dengan orang Tionghoa. Sisi baiknya, Pak Moedjair mendidik anak – anaknya untuk tidak bermain judi. Judi membuat usaha warung satenya jadi porak porandah. Demikian yang disampaikan olej Pak Slamet cucunya, anak dari Bapak Wahana, salah satu putra Pak Moedjair.
Di masa keterprukannya, Pak Moedjair meakukan tirakat, setiap tanggal 1 Suro ( penanggalan Jawa ), beliau mandi dipantai Serang, Blitar selatan. Pada suatu saat, ketika melakukan ritual mandi, beliau menemukan ikan yang jumlahnya amat banyak, yang mempunyai keunikan, yatiu menyimpan anak dalam mulutnya, saat ada bahaya, dan dikeluarkan lagi saat bahaya telah lewat atau keadaan aman.
Karena keunikan ikan ini, Pak Moedjair berniat mengembangkannya di rumah, didaerah Papungan – Kanigoro, Blitar. Pak Moedjair menjaring ikan tersebut dengan udengnya ( ikat kepala ). Dengan ditemani kedua temannya, Abdullah Iskak dan Umar, beliau membawa pulang ikan tersebut kerumahya. Tapi karena habitat yang berbeda, ikan tersebut mati pada saat dimasukan ke air tawar. Hal tersebut membuat Pak Moedjair penasaran dan gigih melakukan percobaan, agar spesies ikan ini bisa hidup di air tawar.
Dengan bolak – balik Papungan – Serang yang berjarak 35 km, berjalan kaki dengan melewati hutan belantara, naik turun bukit, betul betul akses jalan yang susah, dan memakan waktu 2 hari 2 malam. Di Pantai Serang beliau mengambil ikan tersebut dan dimasukan kedalam gentong tanah liat. Beliau mencampurkan air laut dan air tawar dalam gentong. Percobaan percampuran air laut dan air tawar di lakukan secara terus menerus, dengan memperkecil jumlah air laut dan memperbesar jumlah air tawar. Ampai satu saat kedua jenis air ini bisa menyatu. Menurut Pak Ismoenir ( anak Pak Moedjair ), perjalanan bolak – balik Papungan – Serang, pada percobaan ke 11, berhasil hidup 4 ekor ikan spesies baru tersebut pada habitat air tawar. Keberhasilan tersebut terjadi di tanggal 25 Maret 1936.

Spesies baru bernama ikan MOEDJAIR.

Keberhasilan percobaan tersebut melegakan Pak Moedjair. 4 Ikan itu dia tangkarkan di kolam sumber air Tenggong, Desa Papungan. Awalanya hanya satu kolam dan berkembang menjadi 3 kolam. Disekitar kolam Tenggong, Pak Moedjair membangun pondok yang juga sebagai tempat tinggal untuk keluarganya.
Perkembang biakan ikan spesies baru itu luar biasa cepat, maka jumlah ikan semakin banyak. Oleh Pak Moedjair, ikan spesies baru itu diberikan secara cuma-cuma ke masyarakat sekitar Papungan. Dan dijual di sekitar Blitar dan di luar Blitar.
Penemuan ikan spesies baru ini sampai ke telinga Asisten Resident yang berada di Kediri. Asisten Residen ini juga seorang ilmuwan, ia tergoda untuk meneliti spesies hasil temuan Pak Moedjair, berdsarkan literatur dan data-data yang ada. Dia juga melakukan riset serta wawancara dengan Pak Moedjair, tentang segalanya asal muasal ikan ini. Asisten Residen ini kagum dan takjub akan usaha dan kegigihan dari usaha percobaan Pak Moedjair. Karena itu, Asisten Residen ini memberikan penghargaan kepada Pak Moedjair, pemberian nama ikan spesies baru tersebut dengan nama Pak Moedjair. Sejak saat itu, ikan spesies baru tersebut dinamakan ikan MOEDJAIR ( Mujair )

Penghargaan yang diterima Pak Moedjair.

Ikan Moedjair semakin dikenal, dan masyarakt semakin banyak yang mengembang biakannya. Nama Pak Moedjairpun semakin terkenal. Dengan bantuan anak sulung beliau, Wahanan, ikan Moedjair dipasarkan ke hampir daratan seluruh Jawa Timur. Oleh pemerintah setempat, beliau diangkat sebagai Jogoboyo Desa Papungan dan mendapatkan gaji bulanan dari pemerintah daerah. Pemerintah Indonesia mengangkat beliau sebagai Mantri Perikanan. Selain itu, Pak Moedjair juga mendapatkan penghargaan EKSEKUTIP COMMITTE dari INDONESIA FISHERIES COUNCIL, atas jasanya menemukan ikan moedjair. Penghargaan tersebut diberikan di Bogor tanggal 30 Juni 1954. Sebelumnya, pada tanggal 17 Agustus 1951, KEMENTERIAN PERTANIAN atas nama Pemerintah Indonesia, memberikan penghargaan pada Pak Moedjair, waktu itu dijabat oleh Ir. Soewarto.

Hari – hari terakhir sang penemu ikan moedjair.

Selain membuat kolam ikan di Tenggong, beliau juga membuat kolam ikan di Papungan dan di Kedung ( sumber air ) desa Papungan. Di Kedung, Pak Moedjair menghabiskan hari-hari tuanya selama kurang lebih 10 tahun. Disini dia banyak dikunjungi dari masyarakat Blitar maupun luar kota Blitar, untuk menimba ilmu dan memancing ikan moedjair.
Saat kesehatannya mulia menurun, beliau memutuskan tinggak di dukuh Krajan, desa Papungan, dekat perbatasan dengan desa Sekardangan. Disini beliau membuat 3 kolam ikan, sampai saat ini kolam tersebut masih ada keberadaannya.
Tanggal 01 September 1957 beliau wafat, karena penyakit asma. Dimakamkan di pemakaman umum desa Papungan. Pada tahun 1960, atas inisiatip Departemen Perikanan Indonesia, makam beliau dipindah ke area kusus di selatan desa Papungan, yang juga berfungsi sebagai makam keluarga. Pada batu nisan beliau tertulis MOEDJAIR PENEMU IKAN MOEDJAIR, lengkap dengan relief ikan moedjair, sebagai penghargaan atas jasanya. Akses jalan ke makam juga diberi nama Moedjair.
Pada 6 April 1965 Pemerintah melalui Departemen Perikanan Darat dan Laut menganugerahkan Pak Moedjair sebagai Nelayan Pelopor. Piagamnya ditanda tangani oleh menteri perikanan, Hamzah Atmohandojo.
Istri Pak Moedjair, Partimah, meninggal di tahun 1966, dimakamkan di sisi makam Pak Moedjair. Sang adalah sosok istri yang mengabdi dan hormat pada suami, salah atu bentuk hormat tersebut, beliau selalu menggunakan bahasa jawa halus ( kromo inggil = bahasa jawa tingkat kehalusan yang tinggi ) pada suaminya.
Dari cerita diatas, saya bermimpi, sarjana-sarjana pertanian dan Perikanan, saat lulus dari pendidikannya bisa kembali ketempat asalnya dan mengembangkan daerah masing – masing, menjadi penemu – penemu muda untuk bangsa sekitarnya. Tidak berhamburan ke kota besar hanya sekedar mengejar jabatan, tak pernah berprestasi untuk bangsanya. Semoga mimpi saya didengar Tuhan, agar bangsaku tidak dilecehkan.

Tidak ada komentar: